Sudah terlalu banyak rasanya ane membaca buku, artikel, atau sejenisnya yang berkenaan dengan korelasi Rizqi dan Dhuha. Rasanya tak ayal jika memang antara keduanya terpaut sebuah hubungan yang tak mampu dipisahkan. Kurang bukti apalagi coba?
Mulai membiasakan dhuha sejak dibangku SMA pasca teringat bahwa pernah diberi 'taujih' dari murabbi ketika masih SMP. How a great Dhuh, guys :D
You will know what I meant after you do Dhuha prayer and find yours. Believe me :)
Mulai dari menjelajahi pulau - pulau'raksasa' di Indonesia dan kompetisi sini sana. Mulai dinobatkan jadi ini itu hingga kini dengan pencaharian yang 'tak terduga' dari 'menjual suara'. Ini nyata, bukan fiktif belaka.
Dari sisi mana lagi kita masih ragukan "The Magic of Dhuha"...???!!!
Hingga hari ini, saat sehela dua hela napas masih bisa terluapkan. Sejatinya setiap ruas tulang, setiap keping sel, setiap nanoliter darah yang ada dalam tubuh kita ini ada yang wajib ditunaikan. Apa ? Sedekahnya. Sungguh, setiap tasbih, tahmid, takbir, tahlil yang senantiasa kita gaungkan adalah sedekah. Lantas, ada apa dengan Dhuha ?
Allaah begitu cinta kita, kenapa kita malah menyalahkan-Nya dengan segenap kenistaan dan kebodohan kita ?
Pelitkah kita dengan empat rakaat ketika matahari sudah sepenggalan naik ?
Atau memang mata hati kita sudah buta ? Tolonglah...
Nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang akan dirimu dustakan ?
Jangan kira wujud Rizqi hanya sebatas rupiah saja. Jelas saja, TIDAK. Setiap kemudahan (re:yusraa) yang kita alami memang datangnya dari siapa ? Allaah, kan ? Lantas, kenapa kita masih 'jedit' tuk luangkan waktu sepuluh menit saja seraya meminta...moga - moga tercukupi apa - apa yang harus dicukupi di dunia, akhirat juga tentunya...
Ane ada pengalaman menarik tentang Dhuha ketika semester 4...
Suatu ketika senior ane menasihati, "Na, biasa salat Dhuha berapa, Na ?" | "4 rakaat, Kak. emang kenapa ?" | "Coba deh tambah jadi 12 rakaat maksimal, Na. Rasakan sensasinya."
Pagi itu juga dengan sepenuh bumi dan langit penasaran yang ada (hehehe) ane mencobatunaikan 12 rakaat. Masyaa Allaah...Allaahu Akbar...
Doanya masih tetap sama, (tambahlah rizqi kedua orang tua dan berkahi yaa Allaah,begitu pula dengan hamba). Siangnya, tanpa disangka ditelpon sekretaris jurusan untuk menemui beliau.
Dengan segenap 'ketakutan' akhirnya ane memberanikan diri menemui beliau di kantor jurusan.
Alhamdulilllaah.."Yusrina terpilih menjadi mahasiswa terbaik jurusan, ini ada sedikit dari jurusan (sambil nyodor amplop) dan ini piagamnya..." | "Apa ini, Sir ?" | "Buka ajalah. Coba hitung dulu, pas gak ?" | "Alhamdulillaaah...thanks a lot, Sir :)" (lumayan jugaaaa :D)
Itu semester 4, and you have to know once, walhasil di semester 6 ane juga mendapat predikat yang sama. Jelas, dapat rizqi yang sama pula dengan sebelumnya. :)
Upss, satu lagi...
Biasakan setiap rizqi yang kita terima itu disedekahkan sebahagian, yaaa. Karena di dalam rizqi kita juga ada hak saudara kita. Berapa ? yup, 2,5%. Kalo mau lebih juga lebih bagus atuh, guys :D
Pernah denger ceramahnya ustad YM kan ? Kalo 'belum', rugi begete !
Kata Ustad YM kalo kita mau minta rizqi ke Allaah sebesar 1.000.000 misalnya, kita kudu sedekah 10% dari tu nominal. Berapa, coba ? yaaaa... 100.000. Nah, insyaaAllaah, Allaaah bakalan kasih tuh yang 1.000.000. Percaya ? Kalau ane, PERCAYA !!! :D karena pernah coba (jiaaah). Dan sempat ditanya teman, "emang jodoh juga bisa dimatematikakan kaya gitu, Na ?" | "Bisa, dong :D"
Intinya...kalo mau mudah rizqinya ya 'do Dhuha, do ashShadaqah' yaaa :)
Salam cinta...
"Boleh mengeluh sesekali, asal jangan pernah menyerah walau hanya sekali."
Sabtu, 11 April 2015
Jumat, 03 April 2015
Wahai Cinta
Jika ada yang lebih mulia dari menyebut namamu dalam doa di sujud panjangku, maka ajarkan padaku yang kau sebut mulia itu.
Jika ada yang lebih mulia dari diam menunggu penuh harap pada Tuhan Yang Rauf atas jutaan sedan dan sendu, maka tunjukkan padaku yang kau sebut mulia itu.
Jika ada yang lebih mulia dari merapikan mimpi dengan tuntunan sabda Illaahi, maka tuturkan padaku yang kau sebut mulia itu.
Wahai Cinta...
Sedalam apapun samudera yang telah Rabb cipta, kupastikan lebih dalam isak yang kutahan untuk setiap pinta yang Allaah tangguhkan.
Setinggi apapun lapis -lapis langit yang telah Rabb cipta, kupastikan lebih tinggi cita yang kulayangkan untuk setiap 'aamiin' yang Allaah janjikan.
Wahai Cinta...
Aku memaknaimu bukan dari kertas putih yang berhiaskan tinta.
Bukan.
Aku memaknaimu dari bulir gerimis di ujung mata saat kusungkurkan setiap jengkal kehina-dina-anku pada Yang Mahasempurna.
Wahai Cinta...
Aku memaknaimu bukan dari celoteh panjang tentang cara dirimu memaknai kehidupan.
Bukan.
Aku memaknaimu dari setiap napas syukur yang yang kau sembahkan pada Tuhan atas hadirku sebagai insan penyempurna yang kelak Tuhan takdirkan.
Solok, (masih) -Rinai Senja di Ujung Mata II-
@ysrnftr
Jika ada yang lebih mulia dari diam menunggu penuh harap pada Tuhan Yang Rauf atas jutaan sedan dan sendu, maka tunjukkan padaku yang kau sebut mulia itu.
Jika ada yang lebih mulia dari merapikan mimpi dengan tuntunan sabda Illaahi, maka tuturkan padaku yang kau sebut mulia itu.
Wahai Cinta...
Sedalam apapun samudera yang telah Rabb cipta, kupastikan lebih dalam isak yang kutahan untuk setiap pinta yang Allaah tangguhkan.
Setinggi apapun lapis -lapis langit yang telah Rabb cipta, kupastikan lebih tinggi cita yang kulayangkan untuk setiap 'aamiin' yang Allaah janjikan.
Wahai Cinta...
Aku memaknaimu bukan dari kertas putih yang berhiaskan tinta.
Bukan.
Aku memaknaimu dari bulir gerimis di ujung mata saat kusungkurkan setiap jengkal kehina-dina-anku pada Yang Mahasempurna.
Wahai Cinta...
Aku memaknaimu bukan dari celoteh panjang tentang cara dirimu memaknai kehidupan.
Bukan.
Aku memaknaimu dari setiap napas syukur yang yang kau sembahkan pada Tuhan atas hadirku sebagai insan penyempurna yang kelak Tuhan takdirkan.
Solok, (masih) -Rinai Senja di Ujung Mata II-
Sabtu, 21 Maret 2015
Renungan Sabtu Malam
Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus'ahaa-- kata Allaah...
Apa kita masih tak percaya ?
Hakikatnya seorang hamba yang diuji oleh setiap senti dahaga dunia. Begitulah memang adanya.
Ujian. Harta, tahta, dan cinta. Jika Allaah uji kita lewat harta yang kita punyai sedang kita mampu melaluinya, mampu lulus dari ujian-Nya, maka Allaah akan berikan ujian di ranah yang berbeda pada kita. Allaah tahu sebatas mana hamba-Nya mampu menjawab dan melalu setiap petakan amanah dan karunia yang Ia beri.
Allaah uji kita (lagi). Kali ini bukan lewat harta, melainkan tahta, kedudukan, jabatan, populariatas, dan segenus dengannya. Ternyata tak berpengaruh apa - apa dengan sang hamba. Ia tetap tekun mengamalkan setiap apa yang diinstruksikan Rabbnya dan meninggalkan amalan buruk tersebut sebab ia tahu Allaah tepat mengujinya. Hingga pada akhirnya Allaah memuarakan ujian-Nya pada cinta yang telah mendarah daging dalam ruhiyah dan jasadiyah kita.
Ternyata, subhanallaah. Cinta ternyata mampu mengubah semuanya jika tanpa landasan yang telah Allaah Sang Mahacinta syariatkan kepada kita. Sempatkah kita berpikir ? Allaah menguji hamba-Nya agar nantinya ujian ini akan menjadi jembatan penghubung secara vertikal antara Yang Mencipta dan yang diciptakan. Antara Ia Yang Mahasempurna dengan kita yang hina dina.
Lewat ujian Allaah telah memanggil kita, menghimbau agar kita mendekatkan diri pada-Nya. Karena mutlaknya, hanya Allaah Yang Maha Segala - galanya. Mulai dari apa yang belum kita niatkan hingga kepada apa yang sedang dan bahkan sudah kita niatkan.
Hanya saja kita yang tak peka. Pada saatnya iman yang tertanam subur tadi sekarang mendadak kerontang karena galau mencari solusi masalah sendiri. Sibuk dengan kerisuhan diri dan tak mampu berdamai dengan kondisi.
Menjadi insan paripurna memang begitu prosesnya. Menjadi yang ideal, yang pas, dan yang sesuai. Begitu pula Allaah memberikan ujian tadi berbanding lurus dengan kemampuan kita. Kerana Allaah takkan uji hamba-Nya melainkan sesuai dengan kadar kekuatan dan kesanggupan hamba-Nya. Lantas, apa yang kita perbuat ? Allaah....sesuai sangkaan hamba-Nya. Baik buruknya tergantung pada kita.
Semoga ujian ini tak lantas membuat kita malah semakin menjauh dan menyalahkan Tuhan.
Harusnya mampu memberi ruang kosong yang baru untuk tempat keningmu menempel dalam tahajjud ilallaah.
Semoga ujian yang singgah sementara kepada kita mampu menjadi lembar kupon berhadiah mendapatkan surga yag nanti kan dipertanggungjawabkan dengan laporan yang kita 'pesan' ketika di dunia.
hadapi...hayati...nikmati...
Tak usah penat - penat memikirkan solusi hingga menjadikan kita lupa bahwa kita ini siapa ? Sedang di sisi lain Allaah menyuruh kita untuk Shabar dan Shalat.
Karena nikmatnya baru akan terasa kalo pake hatiii...
Allahu 'alam bishshawab.
Apa kita masih tak percaya ?
Hakikatnya seorang hamba yang diuji oleh setiap senti dahaga dunia. Begitulah memang adanya.
Ujian. Harta, tahta, dan cinta. Jika Allaah uji kita lewat harta yang kita punyai sedang kita mampu melaluinya, mampu lulus dari ujian-Nya, maka Allaah akan berikan ujian di ranah yang berbeda pada kita. Allaah tahu sebatas mana hamba-Nya mampu menjawab dan melalu setiap petakan amanah dan karunia yang Ia beri.
Allaah uji kita (lagi). Kali ini bukan lewat harta, melainkan tahta, kedudukan, jabatan, populariatas, dan segenus dengannya. Ternyata tak berpengaruh apa - apa dengan sang hamba. Ia tetap tekun mengamalkan setiap apa yang diinstruksikan Rabbnya dan meninggalkan amalan buruk tersebut sebab ia tahu Allaah tepat mengujinya. Hingga pada akhirnya Allaah memuarakan ujian-Nya pada cinta yang telah mendarah daging dalam ruhiyah dan jasadiyah kita.
Ternyata, subhanallaah. Cinta ternyata mampu mengubah semuanya jika tanpa landasan yang telah Allaah Sang Mahacinta syariatkan kepada kita. Sempatkah kita berpikir ? Allaah menguji hamba-Nya agar nantinya ujian ini akan menjadi jembatan penghubung secara vertikal antara Yang Mencipta dan yang diciptakan. Antara Ia Yang Mahasempurna dengan kita yang hina dina.
Lewat ujian Allaah telah memanggil kita, menghimbau agar kita mendekatkan diri pada-Nya. Karena mutlaknya, hanya Allaah Yang Maha Segala - galanya. Mulai dari apa yang belum kita niatkan hingga kepada apa yang sedang dan bahkan sudah kita niatkan.
Hanya saja kita yang tak peka. Pada saatnya iman yang tertanam subur tadi sekarang mendadak kerontang karena galau mencari solusi masalah sendiri. Sibuk dengan kerisuhan diri dan tak mampu berdamai dengan kondisi.
Menjadi insan paripurna memang begitu prosesnya. Menjadi yang ideal, yang pas, dan yang sesuai. Begitu pula Allaah memberikan ujian tadi berbanding lurus dengan kemampuan kita. Kerana Allaah takkan uji hamba-Nya melainkan sesuai dengan kadar kekuatan dan kesanggupan hamba-Nya. Lantas, apa yang kita perbuat ? Allaah....sesuai sangkaan hamba-Nya. Baik buruknya tergantung pada kita.
Semoga ujian ini tak lantas membuat kita malah semakin menjauh dan menyalahkan Tuhan.
Harusnya mampu memberi ruang kosong yang baru untuk tempat keningmu menempel dalam tahajjud ilallaah.
Semoga ujian yang singgah sementara kepada kita mampu menjadi lembar kupon berhadiah mendapatkan surga yag nanti kan dipertanggungjawabkan dengan laporan yang kita 'pesan' ketika di dunia.
hadapi...hayati...nikmati...
Tak usah penat - penat memikirkan solusi hingga menjadikan kita lupa bahwa kita ini siapa ? Sedang di sisi lain Allaah menyuruh kita untuk Shabar dan Shalat.
Karena nikmatnya baru akan terasa kalo pake hatiii...
Allahu 'alam bishshawab.
Langganan:
Postingan (Atom)
Tugas Akhir PembaTIK Level 4 TAHUN 2024 (VLOG BERBAGI DAN BERKOLABORASI)
Assalamualaikum wrwb. 😇 Halo Sobat Bloggers. Pada postingan kali ini, Saya akan memuat beranda laman blog Saya dengan cerita tentang Tugas...
-
Assalamualaikum wrwb. 😇 Halo Sobat Bloggers. Pada postingan kali ini, Saya akan memuat beranda laman blog Saya dengan cerita tentang Tugas...
-
Assalamualaikum wrwb.😇 Halo Sobat Bloggers. Berikut ini adalah KEGIATAN 7 BERBAGI DAN BERKOLABORASI terkait agenda Pembatik Level 4 tahun...
-
KETERBAGIAN BILANGAN · Bilangan yang habis dibagi oleh 2 Setiap bilangan genap habis dibagi 2. Contohnya 4, 6, 8, dan ma...