Kamis, 05 Maret 2015

~Menanti Bulan~



Rabb...
Dengan segenap kejujuran dan kerendahan...
Semuanya akan kuluruhkan...
Beralaskan pasrah pada takdir-Mu...
Kini membuatku terbujur kaku...
Aneh...
Dengan perasaanku sendiri pun aku sudah tak mau tahu...
Rasa – rasanya dunia penuh sesak dengan ‘orang gila’...
Atau malah aku yang sudah ‘gila’ ?
Aku terhenyak oleh kenyataan yang ada...
Ternyata aku sedang bermimpi demi menghibur kalut dalam diri...
Rabb...
Dengan segenap welas dan hina dinanya diri aku merayuMu...
Di atas sajadah hijau muda dan pada malam yang sudah mulai nampak tua...
Jalan kini sudah tak tampak kemana arahnya...
Kian hari kian hilang senyum di pendar purnama...
Rabb...
Aku bukan inginkan sang bulan, walau memang kini diamku  pertanda kurindukan bulan...
Rabb...
Aku bukan inginkan waktu dan jarak yang bisa kuhitung dengan tangan, walau memang kini yang kubutuhkan adalah sebuah pertemuan...

Padang, 5 Maret 2015
21:45 WIB
#menantiBulan

Are you Muslimah... (?)



          Ada paras yang saat dipandang menyenangkan, lama dilihat ‘nggak bikin penat’. Itulah paras yang senantiasa terbasuh oleh siraman wudhu, bercahaya oleh khusyu’nya ibadah, keningnya diperindah oleh nikmatnya sujud...

          Auratnya terjaga, pergaulannya terjaga, perilakunya terjaga. Matanya berkilau oleh air mata taqwa, bibirnya basah dengan untaian petuah, rambutnya tertutup oleh juluran jilbabnya. Bicaranya dakwah, pendengarannya tilawah, geraknya jihad fii sabilillaah. Hatinya penuh dzikir, otaknya penuh pikir, dipercantik oleh terjaganya lahir...

          Simak apa kata salah seorang sahabat Rasulullaah saw, Abu Bakr Ash – Shiddiq :
“ 7 Perhiasan Indah Sang Perfect Muslimah “ :
1.   Pantang meminta – minta merupakan perhiasan si miskin,
2.   Bersyukur merupakan hiasa bagi anugerah,
3.   Sabar merupakan hiasan bagi musibah,
4.   Santun merupakan hiasan bagi ilmu,
5.   Banyak menangis merupakan hiasan bagi yang bertaubat,
6.   Menyembunyikan kebaikan merupakan hiasan bagi kebajikan,
7.   Khusyu’ merupakan hiasan bagi orang shalat.

Senin, 16 Februari 2015

Malam Muda

            Aku masih terus mengayuh pedal mungil hitam sambil tersenyum sumringah pada langit kelam tanpa hiraukan butiran - butiran peluh yang berebut jatuh. Tembakan lampu sudut kota semakin memberiku cahaya. Seolah - olah aku ini adalah gadis malam muda. Angin yang datang hanya bisa mengusikku manja. Tanpa salam pembuka bahkan sepotong sapa. Jembatan Minang tampak lengang. Hanya satu dua kendaraan yang berlalu lalang. Ah... Ternyata begini rasanya jadi gadis malam muda, terdampar di sudut kota tercinta.
             Malam ini memang di luar rencana. Celakanya, bagaimana pun aku menjauhi dunia, wajahnya masih tersangkut di pelupuk mata. Sebenarnya bukan salah indera. Bukan salah siapa - siapa. Apalagi salah angin yang sejak tadi hanya lalu tanpa menyapa. Mungkin gundah gulana sedang lelah tinggal menyemak di dalam dada. Ia juga ingin menikmati betapa indahnya menjadi bahagian dari malam muda.
             Pada genangan air raksasa yang belum tampak riaknya aku mengadu syahdu. Malam ini, aku masih teringat tentang dirimu. Berusaha menelan pahitnya rindu, terlebih manisnya semangat kala itu. Aku hanya bisa mendengar aspal jalan sedang menertawakanku. Pelik memang. Hingga langit pun tak memberi restu. Atau ini memang jalan takdirku. Bukan berarti aku harus melupakanmu.
            Sakit mengajarkanku akan arti sehat. Sehat yang terlihat maupun yang tak terlihat. Waktu mengajarkanku arti sabar. Sabar menanti kabar yang kelak kan indah tuk kita dengar. Jarak mengajarkanku arti rindu. Rindu menunggu saat bahagia jika suatu saat takdir kan menghantarkanku berdiri tepat di belakangmu bukan di sampingmu. Kehilangan mengajarkanku arti memiliki, walau sejatinya aku tak berhak atas nikmat yang telah Tuhan beri. Sendiri mengajarkanku arti kebersamaan. Bersama walau kita tahu Tuhan tengah menyiapkan cerita yang kelak akan kita nilai sempurna.
            Wahai penghuni malam, akulah gadis malam muda. Bukan gundah karena galau sudah kepalang tumpah. Wahai penghuni malam, akulah gadis malam muda. Bukan nelangsa karena tak punya rasa. Tapi hanya sedang menjinakkan hati, agar aku tahu diri.


Jembatan Minang, Padang, 16 Februari 2015
19.30 WIB
-setelah rinai reda-

Tugas Akhir PembaTIK Level 4 TAHUN 2024 (VLOG BERBAGI DAN BERKOLABORASI)

 Assalamualaikum wrwb. 😇 Halo Sobat Bloggers. Pada postingan kali ini, Saya akan memuat beranda laman blog Saya dengan cerita tentang Tugas...