Selasa, 28 Oktober 2014

Seuntai Syair untuk Hamba Tuhan

Tuhan...Dawai ini sengaja kugerakkan ketika kusadar jika sedang butuh pertemuan...
Pertemuan yang akan segera berakhir dalam hitungan pergerakan bulan...
Pertemuan yang kan lahirkan perpisahan dan kerinduan...
Walau sukma sudah sejak kemarin meronta tak karuan...

Tuhan...
Kali ini tolong izinkan kutuliskan syair untuk hamba-Mu yang memanggilmu syahdu...
Yang setia dengan zuhudnya walau kadang tampak malu - malu...
Yang betah membeku demi mendapatkan sesuatu yang tak kenal semu...
Walau sesak sudah membaha sejak lalu...

Tuhan...
Kali ini tolong biarkan hanyut dalam aliran kisah yang sengaja telah Kau takdirkan...
Pada seorang yang masih didiktekan langkahnya hingga mampu sampai ke tujuan...
Meski waktu memaksaku meremukkan kenangan masa lalu...
Tapi aku yakin Tuhan, Kau pasti kan berikan yang terbaik untuk hamba-Mu...


Tuhan...
Kali ini tolong izinkan aku menarik manja selimut kelabu yang tarajut perdu..
Yang kadang sempat menghangatkan walau nyaris tak pernah diminta demikian...

Tuhan...
Kali ini tolong izinkan aku menuang syair penawar rindu...
Yang kadang sempat mendinginkan walau nyaris tak pernah diminta demikian...

Tuhan...Aku tahu...

Waktu yang kau takdirkan antara hamba-Mu telah sampai ke peraduan..


Meski sempat tercipta duka dan suka yang berlebihan...
Namun, biarkan saja aku setia mengingatnya...
Sebab dengan jarak dan waktu yang Kau cipta tak buatku mampu lupa seutuhnya...

 Padang, 28 Oktober 2014
23 : 12 WIB
"tanpa rinai, kala diam"

Sabtu, 25 Oktober 2014

Selekas Bahgia

Aku tertarik untuk bercerita tentang kisah kita..
Ya, kisah tali temali yang belum sempat terajut oleh masa..
Tentang kisah perpaduan jarak dan waktu yang melahirkan rindu..
Tentang senyum yang kadang ragu bukan untukku..
Dan tentang pengorbanan - pengorbanan kecil antara aku dan dirimu..

Jika malam kadang kesepian tanda bulan dan bintang, ada hujan yang akan datang setia menemani..
Berharap selepas fajar kan ada pelangin indah yang menyambut pagi walau tanpa sisa rinai malam tadi..
Jika siang kadang kesepian tanpa kuning mentari yang menyembunyikan diri, ada hujan yang akan datang setia menemani..
Berharap selepas senja datang kan ada pelangi indah yang menggantikan mentari yang malu - malu sejak siang tadi..

Itu bukan kisah kita..
Itu hanya pengantar kisah kita..

Lalu aku ingin bercerita tentang bahagia..
Bahagia yang sederhana..
Ketika aku masih bisa melihat bayanganmu menembus tirai hijau muda..dan....
Ketika aku masih bisa mendengar suaramu yang pernah buatku menitikkan air mata..

Lantas apa yang istimewa ?

Istimewa itu, ketika aku memperhatikanmu dan dirimu masih sibuk dengan zuhud yang kau jaga sepanjang waktu..
Istimewa itu, ketika aku melihatmu pelan dan dirimu masih menyembunyikan senyummu kau rahasiakan kemana ia tertuju..
Istimewa itu, ketika aku berdecak kagum dengan pengorbanan kecilmu untukku tanpa ada seorangpun yang tahu, kecuali aku..
Istimewa itu, ketika aku tersenyum sumringah saat tahu dirimu benar - benar menepati janji tak ulangi kesalahan yang sama padaku..

Rinduku memang milikmu..
Tapi rindumu belum tentu milikku..
Biarlah, Tuhan Mahatahu..
Jika nantinya bukan dirimu, akan ada sosok yang serupa denganmu..

Padang, 25 Oktober 2014
23.07 WIB
"masih berselimut rinai lembut"

Senin, 13 Oktober 2014

Sebuah Cerita

Sudah lebih dua puluh delapan pekan rasanya kita bercengkerama di bawah payung yang sama..
Mulai dari bunyi alarm yang setia membangunkan diri yang masih berselimut hingga ujung kaki..
Sampai dengan kisah tentang diri yang meraih bangku kuliah dengan berlari tak sadar diri..
Namun, bukan itu semua yang ingin kujadikan introspeksi..
Melainkan ada satu tumpuk rasa yang setia bersarang di dalam hati..

Hingga kini aku masih menaruh iri pada pena yang sering kau genggam..
Hingga kini aku masih menaruh iri pada helaian buku yang kau selam..
Hingga kini aku masih menaruh iri pada Quran yang kau baca hingga larut malam..
Dan hingga kini aku masih menaruh iri pada detik - detik kebersamaan yang kau anyam..

Anganku kadang sudah keduluan menembus batas yang tak terjamah mata..
Tergesa - gesa menjemput akhir cerita karena takut kita akan berganti nama..
Sampailah pada saat ketika waktu memang sudah tak sabar memberi kabar bahagia..
Walau sejatinya pertemuan dan kebersamaan yang kita jaga memang mutlak terlahir sementara..

Lebih dari dua ratus sepuluh hari tercipta buku - buku diari tentang episode membentengi hati..
Mulai dari sapaan yang tak berujung hingga harapan yang sengaja digantung..
Lebih dari seratus jam semua indera serasa dipenjara..
Muai dari kisah lisan yang kebablasan berkata hingga mata yang tak mampu dijaga..

Sejak dini sudah kuwanti - wanti..
Apa harapan kita kan berakhir sia - sia ?
Atau Allah dengan penuh kuasa menyiapkan sebuah singgasana untuk kita kan tetap bersama ?
Aku berharap, semoga..
Karena ilalang pun kan merajuk bila tak disapa angin..
Apa lagi aku..

Tugas Akhir PembaTIK Level 4 TAHUN 2024 (VLOG BERBAGI DAN BERKOLABORASI)

 Assalamualaikum wrwb. 😇 Halo Sobat Bloggers. Pada postingan kali ini, Saya akan memuat beranda laman blog Saya dengan cerita tentang Tugas...